Provinsi Sulawesi Utara kembali mencuri perhatian dunia internasional lewat penyelenggaraan event pariwisata berskala global yang mengangkat keindahan bahari daerah tersebut. Pemerintah provinsi bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) resmi menggelar North Sulawesi International Marine Festival (NSIMF) 2025 di Manado, dengan rangkaian acara yang berlangsung sejak 20 hingga 25 September.
Event ini diikuti oleh lebih dari 30 negara, termasuk delegasi dari Asia, Eropa, hingga Amerika, serta menghadirkan ribuan wisatawan mancanegara. Tujuan utama penyelenggaraan festival ini adalah untuk memperkenalkan potensi bahari Sulawesi Utara, yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut terbaik di dunia.
Potensi Wisata Bahari Sulawesi Utara
Sulawesi Utara selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan Indonesia. Kawasan Taman Laut Bunaken, misalnya, telah diakui UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia karena kekayaan terumbu karang dan biota lautnya.
Selain Bunaken, masih ada destinasi lain seperti Pulau Lembeh di Bitung yang menjadi surga para penyelam makro, serta Pulau Bangka dan Talise yang terkenal dengan pantai pasir putih dan pemandangan bawah laut yang eksotis.
“Sulawesi Utara punya modal besar untuk menjadi destinasi bahari kelas dunia. Laut kita adalah laboratorium hidup yang kaya akan biodiversitas. Melalui event internasional ini, kami ingin menunjukkan bahwa wisata bahari di sini bukan hanya indah, tetapi juga memiliki nilai konservasi,” ungkap Olly Dondokambey, Gubernur Sulawesi Utara.
North Sulawesi International Marine Festival 2025
Festival internasional ini mengusung tema “Blue Paradise for the World” dengan tujuan mengampanyekan pariwisata berkelanjutan. Beberapa rangkaian kegiatan utama yang ditawarkan antara lain:
-
Lomba Fotografi Bawah Laut
Mengundang fotografer profesional dunia untuk mengabadikan keindahan biota laut Sulawesi Utara. -
Kompetisi Selam Internasional
Disertai dengan workshop teknik penyelaman ramah lingkungan yang melibatkan instruktur kelas dunia. -
Pameran Budaya dan Kuliner
Menampilkan kuliner khas Sulawesi Utara seperti cakalang fufu, bubur tinutuan, hingga rica-rica, serta pertunjukan tari tradisional daerah. -
Konferensi Pariwisata Bahari
Forum diskusi yang menghadirkan pakar lingkungan, pebisnis pariwisata, dan akademisi untuk membahas strategi promosi wisata bahari berkelanjutan. -
Konser Musik Pantai
Menghadirkan musisi lokal dan internasional dengan panggung megah di tepi pantai Manado.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata
Menurut data Dinas Pariwisata Sulawesi Utara, jumlah wisatawan mancanegara yang hadir pada festival tahun ini diperkirakan mencapai 20.000 orang, naik 40 persen dibandingkan event serupa tahun lalu. Kehadiran wisatawan ini diproyeksikan menyumbang devisa hingga Rp150 miliar bagi daerah.
Pelaku usaha lokal, mulai dari hotel, restoran, hingga penyedia jasa tur laut, turut merasakan dampak positif dari lonjakan kunjungan wisatawan.
“Sejak event diumumkan, tingkat okupansi hotel di Manado naik signifikan. Kami juga menerima banyak reservasi paket wisata diving di Bunaken dan Lembeh. Ini bukti bahwa event internasional bisa langsung menggerakkan ekonomi lokal,” kata Denny Sumolang, Ketua Asosiasi Pengusaha Pariwisata Sulawesi Utara.
Strategi Promosi Global
Kemenparekraf RI menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan festival ini. Melalui strategi promosi digital, keindahan bahari Sulawesi Utara diperkenalkan lewat platform internasional seperti YouTube, Instagram, dan TikTok.
Selain itu, pemerintah bekerja sama dengan maskapai penerbangan untuk membuka penerbangan langsung dari beberapa kota besar Asia seperti Singapura, Tokyo, dan Seoul menuju Manado.
“Promosi wisata tidak bisa hanya mengandalkan event lokal. Dengan kampanye digital yang masif, kita bisa menjangkau wisatawan global, khususnya generasi muda yang mencari pengalaman unik,” ujar Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Tantangan dalam Pengembangan Wisata Bahari
Meski potensi besar, pengembangan wisata bahari di Sulawesi Utara juga menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya:
-
Ancaman Kerusakan Lingkungan
Aktivitas wisata yang tidak terkontrol berpotensi merusak ekosistem laut, terutama terumbu karang. -
Infrastruktur Terbatas
Beberapa destinasi masih sulit dijangkau karena minimnya akses transportasi dan fasilitas penunjang. -
Keterlibatan Masyarakat Lokal
Masih diperlukan peningkatan kapasitas masyarakat agar bisa terlibat langsung dalam industri wisata bahari.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah daerah menekankan konsep “community-based tourism”, yaitu melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama pariwisata. Dengan begitu, keuntungan ekonomi tidak hanya dinikmati investor besar, tetapi juga masyarakat sekitar.
Harapan ke Depan
Dengan keberhasilan penyelenggaraan NSIMF 2025, pemerintah daerah berharap Sulawesi Utara semakin dikenal sebagai ikon wisata bahari dunia. Targetnya, dalam lima tahun ke depan, jumlah wisatawan mancanegara bisa meningkat dua kali lipat, sekaligus menjadikan pariwisata sebagai salah satu penyumbang utama pertumbuhan ekonomi provinsi.
“Event ini bukan hanya tentang pamer keindahan laut kita, tetapi juga komitmen menjaga kelestarian lingkungan. Kami ingin Sulawesi Utara dikenal dunia sebagai destinasi wisata bahari yang indah, ramah lingkungan, dan berkelas internasional,” tegas Gubernur Olly.
