QRIS Antarnegara Indonesia membuka peluang baru bagi UMKM dan pariwisata. Simak dampak pembayaran lintas negara terhadap ekonomi lokal dan wisatawan.
Dulu, wisatawan asing yang datang ke Indonesia harus memikirkan banyak hal sebelum melakukan transaksi.
Mereka harus menyiapkan uang tunai dalam rupiah, menggunakan kartu tertentu, atau mencari mesin ATM untuk mendapatkan uang lokal.
Bagi wisatawan, persoalan tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi pelaku usaha kecil, terutama pedagang di kawasan wisata, kemudahan pembayaran dapat menentukan apakah seorang wisatawan akhirnya jadi membeli atau justru mengurungkan niat.
Perubahan mulai terjadi ketika sistem pembayaran digital lintas negara berkembang.
Kini, wisatawan dari negara mitra tertentu dapat melakukan pembayaran di Indonesia menggunakan aplikasi pembayaran dari negaranya dengan memindai QRIS di merchant yang mendukung layanan tersebut.
Indonesia pun sebaliknya mulai membangun akses agar masyarakat dapat menggunakan aplikasi pembayaran domestik ketika bepergian ke luar negeri.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa QRIS Antarnegara dirancang untuk memudahkan transaksi lintas negara sekaligus mendukung perdagangan, pariwisata, dan UMKM. Sistem tersebut juga terhubung dengan kerangka transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).
Perkembangannya cukup cepat.
Pada April 2026, Indonesia dan Korea Selatan resmi menghubungkan sistem pembayaran QR antarnegara. Bank Indonesia mencatat bahwa hingga Februari 2026, jumlah pengguna QRIS di Indonesia telah mencapai 60,77 juta.
Namun, pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi apakah pembayaran digital akan berkembang.
Pertanyaannya adalah:
Apakah QRIS Antarnegara benar-benar dapat membuat lebih banyak uang wisatawan asing mengalir langsung ke ekonomi lokal?
Dari QR Code Menjadi Infrastruktur Ekonomi
QRIS pada awalnya mungkin terlihat seperti sekadar teknologi pembayaran.
Sebuah kode ditempel di kasir.
Pembeli memindainya.
Transaksi selesai.
Tetapi ketika teknologi tersebut terhubung dengan sistem pembayaran negara lain, fungsinya menjadi jauh lebih besar.
QRIS mulai menjadi bagian dari infrastruktur perdagangan lintas batas.
Bank Indonesia menyebut QRIS Cross-Border bertujuan mendukung aktivitas perdagangan dan pariwisata, terutama dengan membantu UMKM menerima pembayaran dari wisatawan internasional.
Artinya, sebuah warung makan kecil di destinasi wisata dapat berpotensi menerima pembayaran dari wisatawan mancanegara tanpa harus menyediakan sistem pembayaran internasional yang rumit.
Ini merupakan perubahan penting.
Sebab selama ini akses terhadap pembayaran lintas negara lebih mudah dinikmati oleh bisnis besar.
Hotel internasional memiliki mesin pembayaran kartu.
Restoran besar mempunyai berbagai pilihan pembayaran.
Pusat perbelanjaan juga memiliki sistem transaksi yang lebih lengkap.
Sementara pedagang kecil sering mengandalkan uang tunai.
Dengan QRIS, jarak antara bisnis kecil dan wisatawan asing bisa semakin pendek.
Wisatawan Asing Adalah Pasar yang Tidak Boleh Diabaikan
Pariwisata bukan hanya persoalan jumlah orang yang datang ke Indonesia.
Yang tidak kalah penting adalah berapa banyak uang yang dibelanjakan dan ke mana uang tersebut mengalir.
Seorang wisatawan dapat mengeluarkan uang untuk hotel, transportasi, makanan, oleh-oleh, atraksi wisata, tiket, hingga jasa lokal.
Jika sebagian besar pengeluaran tersebut hanya terkonsentrasi pada perusahaan besar, manfaat ekonomi pariwisata akan memiliki distribusi yang berbeda dibandingkan jika uang tersebut juga mengalir ke pedagang kecil dan usaha lokal.
Di sinilah pembayaran digital dapat memainkan peran.
Semakin mudah wisatawan melakukan transaksi, semakin kecil hambatan ketika mereka ingin membeli sesuatu.
Tidak perlu mencari uang tunai.
Tidak perlu mencari mesin ATM.
Tidak selalu harus membawa kartu fisik.
Cukup membuka aplikasi pembayaran yang didukung dan melakukan pemindaian.
Bank Indonesia mencatat bahwa pada 2025 transaksi QRIS Cross-Border oleh wisatawan asing di Indonesia mencapai 5.892.621 transaksi, jauh lebih tinggi dibandingkan transaksi wisatawan Indonesia di luar negeri yang mencapai 1.681.112 transaksi.
Angka tersebut memberikan satu sinyal penting:
Indonesia bukan hanya pasar pengguna QRIS ke luar negeri, tetapi juga menjadi pasar penerima transaksi dari wisatawan internasional.
UMKM Bisa Mendapat Manfaat yang Lebih Besar
Bayangkan seorang wisatawan Korea Selatan berkunjung ke sebuah kawasan wisata di Indonesia.
Ia ingin membeli makanan lokal.
Harga makanan tersebut tidak terlalu mahal.
Namun, wisatawan tidak membawa banyak uang tunai rupiah.
Jika pedagang hanya menerima uang tunai, transaksi mungkin tidak terjadi.
Tetapi jika pedagang memiliki QRIS yang dapat menerima transaksi lintas negara, hambatan tersebut dapat berkurang.
Skenario sederhana seperti itu bisa terjadi ribuan kali di berbagai destinasi.
Dampaknya mungkin kecil dalam satu transaksi.
Tetapi jika dikumpulkan dari jutaan transaksi, nilai ekonominya dapat menjadi signifikan.
Inilah alasan mengapa QRIS Antarnegara memiliki relevansi terhadap UMKM.
Bank Indonesia secara eksplisit menempatkan QRIS Cross-Border sebagai salah satu sarana untuk mendukung UMKM dan kegiatan pariwisata.
Namun, teknologi pembayaran bukan solusi tunggal.
UMKM tetap harus memiliki produk yang menarik, harga yang kompetitif, pelayanan yang baik, serta lokasi yang mudah ditemukan.
QRIS hanya menghilangkan salah satu hambatan: cara membayar.
Indonesia Sudah Terhubung dengan Sejumlah Negara
Perkembangan QRIS Antarnegara tidak berhenti di satu negara.
Bank Indonesia mencatat konektivitas pembayaran QR telah berkembang dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Indonesia juga menyiapkan perluasan konektivitas dengan Tiongkok.
Masing-masing negara memiliki sistem QR domestik sendiri.
Thailand memiliki PromptPay.
Malaysia menggunakan DuitNow QR.
Singapura memiliki NETS QR.
Jepang menggunakan JPQR Global.
Sementara Korea Selatan kini juga telah terhubung dengan sistem pembayaran Indonesia.
Bagi konsumen, kompleksitas tersebut seharusnya tidak terasa.
Yang terlihat hanyalah proses pembayaran yang relatif sederhana.
Namun di belakangnya terdapat koneksi antara bank sentral, penyedia jasa pembayaran, lembaga keuangan, jaringan pembayaran, serta sistem penyelesaian transaksi.
Dengan kata lain, satu pemindaian QR sebenarnya merupakan ujung dari infrastruktur keuangan yang jauh lebih kompleks.
Mengapa Pembayaran Menggunakan Mata Uang Lokal Penting?
Salah satu aspek menarik dari sistem QRIS Antarnegara adalah hubungannya dengan transaksi menggunakan mata uang lokal.
Secara tradisional, transaksi internasional sering melibatkan konversi melalui mata uang utama.
Ketika seseorang melakukan transaksi lintas negara, proses tersebut dapat melibatkan biaya konversi dan berbagai mekanisme perantara.
Dengan konektivitas pembayaran menggunakan kerangka LCT, transaksi antarnegara dapat dilakukan dengan pemanfaatan mata uang lokal sesuai skema yang disepakati.
Bank Indonesia menyebut konektivitas QR antarnegara dapat membantu mengurangi beban konversi valuta asing dan biaya transaksi sekaligus mendukung aktivitas ekonomi riil seperti perdagangan, pariwisata, dan konsumsi.
Bagi wisatawan, manfaatnya adalah kemudahan.
Bagi pelaku usaha, manfaatnya dapat berupa proses penerimaan pembayaran yang lebih sederhana.
Sedangkan dari sisi sistem keuangan, konektivitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral.
Pedagang Tetap Menerima Rupiah
Ada satu hal yang penting diketahui pelaku usaha.
Dalam sistem QRIS Cross-Border, wisatawan asing dapat melakukan pembayaran menggunakan aplikasi dari negaranya, tetapi merchant Indonesia menerima dana dalam rupiah sesuai ketentuan sistem.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa merchant Indonesia tidak memerlukan pendaftaran khusus untuk menggunakan QRIS Antarnegara apabila QRIS mereka telah didukung oleh penyedia jasa pembayaran terkait. Merchant juga menerima pembayaran dalam rupiah.
Ini merupakan kelebihan penting.
Pedagang kecil tidak perlu menjadi ahli valuta asing.
Mereka tidak harus memegang beberapa mata uang.
Mereka tidak perlu menentukan sendiri nilai tukar untuk setiap transaksi.
Sistem pembayaran menangani proses tersebut sesuai mekanisme yang berlaku.
Dengan demikian, teknologi berada di belakang layar sementara pedagang dapat fokus pada bisnisnya.
Tapi Tidak Semua QRIS Otomatis Sama
Meski QRIS sudah sangat luas, pelaku usaha tetap perlu memahami bahwa kemampuan menerima transaksi wisatawan asing bergantung pada dukungan penyedia jasa pembayaran.
Bank Indonesia menyarankan merchant untuk mengonfirmasi kepada penyedia jasa pembayaran masing-masing apakah QRIS mereka sudah dapat menerima transaksi QRIS Antarnegara.
Hal ini penting agar pedagang tidak menganggap semua transaksi internasional pasti dapat diterima.
Pelaku usaha juga perlu memahami prosedur jika terjadi pembatalan, kesalahan transaksi, atau masalah pembayaran.
Literasi digital tetap diperlukan.
Teknologi yang sederhana di sisi konsumen tetap membutuhkan pengelolaan yang benar di sisi merchant.
Pariwisata Daerah Bisa Mendapat Efek Berantai
Dampak QRIS Antarnegara tidak hanya dirasakan oleh pedagang.
Ada efek berantai yang lebih luas.
Wisatawan datang ke destinasi.
Kemudian membeli makanan.
Mereka membayar transportasi lokal.
Membeli oleh-oleh.
Menggunakan jasa pemandu.
Mengunjungi tempat wisata.
Menginap di penginapan lokal.
Setiap transaksi menciptakan perputaran uang.
Jika semakin banyak transaksi dapat dilakukan secara mudah dan tercatat secara digital, maka ekosistem ekonomi lokal juga berpotensi semakin terdigitalisasi.
Ini dapat membantu pelaku usaha membangun catatan transaksi yang lebih rapi.
Data transaksi pada akhirnya dapat membantu pelaku usaha memahami pola penjualan.
Kapan wisatawan ramai?
Produk apa yang paling laku?
Berapa nilai transaksi rata-rata?
Apakah penjualan meningkat ketika musim liburan?
Pertanyaan seperti itu menjadi lebih mudah dianalisis ketika bisnis memiliki data transaksi.
Tantangan Baru: Jangan Sampai UMKM Hanya Menjadi Tempat Pembayaran
Ada risiko yang perlu diperhatikan.
Kemudahan pembayaran tidak otomatis membuat UMKM menjadi lebih kompetitif.
Seorang pedagang bisa memiliki QRIS, tetapi produknya tetap kalah bersaing.
Seorang pemilik toko bisa menerima pembayaran dari wisatawan asing, tetapi tidak memahami cara membangun merek.
Karena itu, digitalisasi pembayaran harus berjalan bersama peningkatan kualitas usaha.
Pelaku UMKM tetap perlu memahami:
- kualitas produk;
- harga;
- kemasan;
- pelayanan;
- bahasa asing dasar;
- pemasaran digital;
- keamanan transaksi;
- pencatatan keuangan;
- serta pengelolaan pelanggan.
QRIS merupakan pintu.
Tetapi setelah wisatawan masuk, pengalaman yang diberikan bisnis menentukan apakah mereka akan membeli, kembali lagi, atau merekomendasikan tempat tersebut.
QRIS dan Perubahan Perilaku Wisatawan
Wisatawan modern semakin terbiasa dengan transaksi digital.
Mereka membawa ponsel ke mana-mana.
Peta ada di ponsel.
Tiket ada di ponsel.
Reservasi ada di ponsel.
Informasi wisata juga ada di ponsel.
Maka pembayaran pun semakin masuk akal jika tersedia dalam perangkat yang sama.
Perubahan tersebut menciptakan ekspektasi baru.
Destinasi wisata tidak hanya perlu memiliki objek yang menarik.
Ia juga perlu memiliki pengalaman digital yang nyaman.
Mulai dari informasi destinasi hingga pembayaran.
Dalam konteks tersebut, QRIS Antarnegara dapat menjadi bagian kecil tetapi penting dari pengalaman wisata.
Data QRIS Menunjukkan Pasarnya Semakin Besar
Pertumbuhan transaksi digital Indonesia memberikan konteks yang lebih luas.
Bank Indonesia melaporkan volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi pada kuartal II 2026, tumbuh 36,88 persen secara tahunan. Sementara transaksi QRIS tumbuh 100,12 persen secara tahunan pada periode tersebut.
Pertumbuhan seperti ini menunjukkan bahwa QR bukan lagi teknologi yang hanya digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu.
Ia telah menjadi bagian dari kebiasaan transaksi.
Ketika basis pengguna domestik semakin besar dan konektivitas lintas negara semakin luas, peluang membangun ekosistem pembayaran regional juga semakin terbuka.
Indonesia bahkan menargetkan pengembangan QRIS Cross-Border dengan lebih banyak negara sebagai bagian dari perluasan konektivitas pembayaran digital. Bank Indonesia menyebut perluasan ke Tiongkok sebagai salah satu agenda 2026 setelah konektivitas dengan sejumlah negara mitra.
Apa Artinya bagi Pengusaha di Destinasi Wisata?
Bagi pelaku usaha lokal, pesan terpentingnya sebenarnya sederhana:
wisatawan asing bukan lagi pasar yang harus dilayani hanya oleh bisnis besar.
Warung, toko oleh-oleh, kedai kopi, restoran kecil, penyedia jasa wisata, hingga pelaku ekonomi kreatif memiliki peluang untuk menerima transaksi digital dari wisatawan internasional selama sistem pembayaran mereka mendukungnya.
Tetapi ada beberapa hal yang harus dipersiapkan.
Pertama, pastikan QRIS aktif
Merchant harus memastikan QRIS berfungsi normal dan mengonfirmasi dukungan QRIS Antarnegara kepada penyedia jasa pembayaran.
Kedua, buat harga mudah dipahami
Wisatawan asing mungkin tidak langsung memahami harga dalam rupiah.
Informasi harga yang jelas membantu mengurangi kebingungan.
Ketiga, tingkatkan pelayanan
Kemudahan pembayaran harus diikuti pelayanan yang baik.
Keempat, manfaatkan pemasaran digital
Wisatawan harus mengetahui keberadaan bisnis tersebut sebelum datang.
Kelima, simpan catatan transaksi
Data penjualan dapat digunakan untuk mengevaluasi bisnis.
Peluang Besar bagi Destinasi di Luar Bali
Pembicaraan tentang wisatawan asing sering kali langsung mengarah ke Bali.
Padahal, konektivitas pembayaran digital dapat membuka peluang bagi berbagai destinasi lain.
Yogyakarta.
Lombok.
Labuan Bajo.
Likupang.
Borobudur.
Dan berbagai kawasan wisata daerah lainnya.
Semakin banyak destinasi yang menerima wisatawan internasional, semakin besar kebutuhan terhadap ekosistem pembayaran yang mudah.
Dalam jangka panjang, QRIS Antarnegara dapat membantu mengurangi salah satu hambatan bagi wisatawan yang ingin berbelanja di tempat-tempat yang belum memiliki infrastruktur pembayaran seperti pusat perbelanjaan besar.
Ini sangat relevan bagi ekonomi lokal.
Sebab salah satu kekuatan pariwisata Indonesia justru berada pada pengalaman lokal.
Kuliner lokal.
Kerajinan lokal.
Transportasi lokal.
Atraksi lokal.
Dan UMKM lokal.
Tantangan Keamanan Tetap Harus Diperhatikan
Semakin besar transaksi digital, semakin besar pula kebutuhan terhadap keamanan.
Pengguna harus tetap waspada terhadap kode QR palsu, manipulasi nominal, tautan mencurigakan, dan penipuan yang mengatasnamakan penyedia pembayaran.
Merchant juga harus memastikan nama penerima dan nominal transaksi sesuai sebelum transaksi diselesaikan.
Bank Indonesia menempatkan keamanan dan keandalan sistem sebagai bagian penting dalam pengembangan sistem pembayaran digital. Pada kuartal II 2026, bank sentral menyatakan stabilitas sistem pembayaran tetap terjaga dengan infrastruktur yang berjalan baik.
Artinya, pertumbuhan pembayaran digital harus selalu berjalan bersama peningkatan literasi keamanan.
QRIS Bisa Menjadi Jembatan Ekonomi Regional
Perkembangan QRIS Antarnegara menunjukkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perubahan cara membayar.
Asia Tenggara dan Asia Timur memiliki hubungan perdagangan dan pariwisata yang semakin erat.
Jika sistem pembayaran antarnegara semakin terhubung, hambatan transaksi dapat berkurang.
Wisatawan lebih mudah berbelanja.
UMKM lebih mudah menerima pembayaran.
Pelaku usaha lebih mudah menjangkau konsumen asing.
Dan ekonomi lokal memiliki peluang memperoleh bagian lebih besar dari aktivitas wisata.
Indonesia telah memiliki pengalaman dari konektivitas dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Perluasan ke Tiongkok juga menjadi bagian dari agenda penguatan konektivitas pembayaran digital pada 2026.
Jika jaringan tersebut terus berkembang, bukan tidak mungkin pembayaran QR menjadi salah satu infrastruktur penting ekonomi regional Asia.
Masa Depan UMKM Bukan Hanya “Go Digital”
Ada perubahan cara pandang yang menarik.
Beberapa tahun lalu, UMKM sering didorong untuk go online.
Sekarang, tantangannya sudah berubah.
Kementerian Komunikasi dan Digital pada April 2026 menilai transformasi digital UMKM telah memasuki fase baru: persoalannya bukan lagi sekadar terhubung ke internet, tetapi bagaimana UMKM menjadi lebih produktif dan kompetitif. Pemerintah juga menyoroti kebutuhan menciptakan pasar digital yang lebih adil bagi pelaku usaha lokal.
QRIS Antarnegara sejalan dengan perubahan tersebut.
Tujuannya bukan sekadar membuat pedagang memiliki QR code.
Tujuannya adalah membuat mereka mampu menerima transaksi dari pasar yang lebih luas.
Itulah perbedaan antara digitalisasi sebagai alat dan digitalisasi sebagai strategi pertumbuhan.
Kesimpulan
QRIS Antarnegara Indonesia sedang berkembang dari sekadar fitur pembayaran menjadi bagian dari infrastruktur ekonomi lintas negara.
Konektivitas dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan menunjukkan bahwa pembayaran digital Indonesia semakin terhubung dengan sistem negara mitra. Perluasan ke Tiongkok juga menjadi salah satu agenda pengembangan konektivitas pembayaran digital pada 2026.
Bagi wisatawan, manfaatnya berupa transaksi yang lebih praktis.
Bagi UMKM, manfaatnya adalah peluang menerima pembayaran dari konsumen internasional.
Bagi destinasi wisata, kemudahan transaksi dapat menjadi bagian dari peningkatan kualitas pengalaman pengunjung.
Sementara bagi perekonomian nasional, konektivitas pembayaran dapat memperkuat hubungan perdagangan, pariwisata, dan penggunaan mata uang lokal.
Tetapi teknologi bukan tujuan akhir.
QRIS tidak otomatis membuat UMKM sukses.
Tidak otomatis membuat wisatawan datang.
Dan tidak otomatis membuat ekonomi daerah tumbuh.
Yang dilakukan QRIS adalah menghilangkan salah satu hambatan dalam transaksi.
Selebihnya tetap bergantung pada kualitas produk, pelayanan, promosi, infrastruktur, keamanan, dan kemampuan pelaku usaha membaca perubahan pasar.
Ke depan, tantangan Indonesia bukan lagi sekadar membuat masyarakat mampu membayar secara digital.
Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi pembayaran tersebut benar-benar menghubungkan pelaku usaha lokal dengan pasar yang lebih besar.
Jika hal itu berhasil, sebuah kode QR yang tampak sederhana di meja warung atau toko oleh-oleh dapat memiliki arti ekonomi yang jauh lebih besar.
Bukan hanya sebagai alat pembayaran.
Tetapi sebagai jembatan antara wisatawan dunia dan pelaku usaha lokal Indonesia.
